Bijak tapi Kosong: Ketika Nasihat Tak Lagi Butuh Integritas

17 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Berapa banyak dari kita yang pernah mendengar kalimat ini. Di mimbar, di kelas, atau berseliweran di media sosial: “Dengarlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Kalimat itu terdengar bijak, netral, dan seolah dewasa secara intelektual. Ia sering dipakai untuk menutup kritik terhadap seorang penceramah, tokoh publik, atau influencer yang ucapannya bagus tetapi perilakunya problematik. Namun jika ditelaah lebih dalam, benarkah nasihat ini sesederhana dan seaman itu?

Masalah pertama dari kalimat tersebut adalah legitimasi. Banyak orang mengutipnya seolah-olah ia berasal dari hadis atau ucapan sahabat Nabi, bahkan sering dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Sayangnya, ketika ditanya sumbernya, rujukan itu kerap menguap.

Tidak jelas sanadnya, tidak jelas konteksnya, bahkan tidak jelas apakah ia benar-benar pernah diucapkan. Kalimat yang tampak religius dan filosofis ini justru sering berdiri tanpa dasar otoritatif yang kuat. Bijak, tapi kosong.

Masalah kedua, dan ini yang lebih serius, adalah implikasi logisnya. Jika kita diminta hanya mendengar pesannya tanpa mempedulikan siapa yang menyampaikan, maka standar moral dan akuntabilitas runtuh.

Dengan logika ini, seorang penipu boleh berbicara tentang kejujuran, seorang pelaku kekerasan boleh berkhotbah tentang kasih sayang, dan seorang koruptor sah-sah saja berpidato soal integritas. Selama katanya indah, publik diminta menutup mata terhadap perilakunya.

Di sinilah letak bahayanya. Nasihat semacam ini, disadari atau tidak telah memberi karpet merah bagi kemunafikan. Ia menjadi tameng moral bagi mereka yang piawai berbicara tetapi gagal hidup sesuai ucapannya. Dalam ekosistem media sosial, logika ini semakin subur.

Pencitraan menjadi raja. Siapa pun yang fasih merangkai kata dapat tampil sebagai panutan, meskipun rekam jejaknya penuh kontradiksi.

Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, persoalan ini justru ditegaskan secara keras. Al-Quran secara eksplisit mengecam ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3 disebutkan:

Ini bukan sekadar nasihat moral biasa. Ini adalah teguran langsung dari Tuhan, dengan bahasa yang tegas dan tanpa ambigu.

Ayat ini menunjukkan bahwa integritas personal bukan aksesori, melainkan inti dari pesan itu sendiri. Dalam konteks ini, siapa yang berbicara menjadi relevan, bahkan krusial. Bukan untuk meniadakan kebenaran sebuah pesan, tetapi untuk menilai kelayakan moral dan kejujuran si penyampai. Sebab pesan yang benar di tangan orang yang salah bisa berubah fungsi: dari pencerahan menjadi manipulasi.

Tentu, ini bukan berarti kebenaran harus ditolak hanya karena disampaikan oleh orang yang bermasalah. Namun membedakan antara “kebenaran pesan” dan “otoritas moral pembicara” adalah hal yang wajib. Kita bisa mengambil ilmunya, tetapi tetap berhak.

Bahkan berkewajiban mengkritik kemunafikannya. Menormalisasi ketidakkonsistenan dengan dalih “yang penting pesannya” adalah bentuk kemalasan berpikir.

Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan hanya butuh kata-kata indah, tetapi juga keteladanan. Ucapan dan perbuatan harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Jika tidak, kita sedang membangun budaya yang memuja retorika sambil memaafkan kebohongan. Dan itu, dalam ukuran moral apa pun, adalah kekalahan.

Read Entire Article