Tiang monorel di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.(Dok. MI/Ramdani)
TIANG-tiang beton maupun besi bekas proyek Monorel Jakarta yang mangkrak masih berdiri sejak 21 Tahun silam. Tiang monorel tersebut berdiri kaki di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Selama lebih dari dua dekade itu, bangunan tiang monorel hanya menjadi simbol penanda ambisi Jakarta yang tertahan.
Pagi itu, Rabu (14/1) Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menepati janjinya untuk membongkar tiang milik PT Adhi Karya itu. berdiri di lokasi yang sama, hadir mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, sosok yang pertama kali mencetuskan gagasan monorel Jakarta pada awal 2000.
"Jujur saja hari ini hati saya lega,” kata Sutiyoso.
Kepastian yang diberikan Pramono bukan sekadar pembongkaran fisik, melainkan penutupan satu bab panjang dalam sejarah transportasi ibu kota. Monorel lahir dari kecemasan Jakarta menghadapi kemacetan.
Pada 2003, Sutiyoso mengumpulkan para pakar transportasi dari berbagai universitas untuk merancang jaringan transportasi makro yang terintegrasi.
Ia melakukan studi banding ke sejumlah negara, termasuk Bogota, Kolombia, yang situasi kotanya dianggap mirip dengan Jakarta.
Dari sana, dirancang empat moda utama: MRT bawah tanah, monorel, busway, dan waterway. Semuanya disusun saling terhubung, menjanjikan mobilitas kota yang lebih manusiawi.
Namun krisis kepercayaan investor pascakerusuhan Mei 1998 membuat rencana besar itu tak bisa sekaligus diwujudkan.
Trans-Jakarta dipilih sebagai langkah awal karena tak bergantung pada investor. Monorel tetap dicanangkan berjalan paralel dan pada 2004 bahkan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan rencana pendanaan dari Tiongkok.
Tetapi waktu tak berpihak. Sutiyoso mengakhiri masa jabatannya pada 2007, dan proyek itu perlahan kehilangan arah.
Tahun-tahun berikutnya, monorel berubah dari janji masa depan menjadi besi tua.
Pada 2014, arah kebijakan transportasi bergeser ke LRT, meninggalkan monorel tanpa kepastian. Tiang-tiang yang semula dirancang mengangkut harapan justru merusak estetika kota.
"Kalau saya lewat sini, rasanya sedih,” ujar Sutiyoso.
Ia menyebut hanya ada dua pilihan: dilanjutkan atau dibongkar. Dan Jakarta memilih yang paling pahit.
Gubernur silih berganti, barulah saat era Pramono Anung, pada 2024 Politkus PDIP itu menginisiasi sendiri rencana pembongkaran. Ia pun membereskan persoalan hukum terlebih dulu melalui koordinasi dengan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi.
"Tentunya untuk melakukan ini prosesnya panjang, dan secara khusus saya berterima kasih kepada Kajati DKI Jakarta yang telah memberikan support sepenuhnya untuk melakukan penataan jalan Rasuna Said ini dan juga KPK," jelas Pramono.
Lalu, pihaknya menyiapkan biaya Rp254 juta dan Rp102 miliar yang dialokasikan untuk menata ulang kawasan Rasuna Said jalan, saluran air, taman, hingga jalur pedestrian. Sebanyak 109 tiang monorel akan ditertibkan, mengembalikan ruang kota yang lama terampas.
Penataan Jalan Rasuna Said
Pasca pembongkaran, jalan Rasuna Said yang tertancap tiang-tiang monorel Jakarta, akan dilakukan penataan kembali. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan 8 bulan kedepan sudah selesai proyek tersebut dan bisa dinikmati seluruh warga.
Ari, 32, pekerja swasta yang kerap melintasi kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan untuk bekerja. Kawasan tersebut memang terkenal dengan kemacetan. Dengan dibongkarnya tiang monorel ini, pemisah jalan yang sebelumnya menjadi tempat tumpukan tiang-tiang ini akan juga akan dibongkar.
"Semoga kalah memang dibongkar, beneran dibongkar sama pemisah jalannya, supaya lebih luas," ujarnya.
Senada, Anwar, 28, pegawai swasta yang bekerja di kawasan Kuningan juga turut mengomentari proyek tersebut. Ia pun mengetahui total anggaran yang digunakan pemerintah untuk melakukan pembongkaran.
Menurutnya, tak masalah untuk menggunakan APBD, selama bermanfaat untuk banyak warga.
"Saya juga tahu butuh Rp100 miliar lebih, semoga tepat sasaran aja," pungkasnya. (H-3)

1 day ago
5






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392741/original/040732000_1761499374-000_82396WX.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5411327/original/005372700_1763011048-Ellham.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5416450/original/062853400_1763451078-Harga_Apple_Watch_Series_11_hingga_Watch_Ultra_3_di_Indonesia_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4957585/original/091770400_1727772719-000_36HG47A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4332604/original/083769300_1677034000-000_339Q9N4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4110996/original/050787700_1659452347-Spotify_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388981/original/067743700_1761183805-7.jpg)





